Angka Kemiskinan Terus Meningkat di Jawa Tengah, Pemprov Jateng Buat Satgas Penanggulangan Kemiskinan
Jakarta - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) membentuk satgas khusus
percepatan penanggulangan kemiskinan esktrem. Pembentukan ini merupakan
arahan dari Wakil Presiden, Ma'ruf Amin, dan diketuai oleh Sekda
Jateng, Sumarno.
Dalam prosesnya, satgas ini bertugas untuk menyelesaikan kemiskinan
ekstrem di lima daerah, diantaranya Brebes, Banyumas, Pemalang,
Banjarnegara dan Kebumen. Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menegaskan,
satgas yang dibentuk ini tugasnya memang benar-benar untuk mempercepat.
"Ini waktunya pendek hanya sampai Desember harus selesai. Saya rasa kami
perlu tim khusus atau satgas untuk bisa melakukan percepatan. Saya
khawatir ada beberapa kabupaten yang tidak siap, maka kami harus bantu
mereka,"kata Ganjar usai rapat penanggulangan kemiskinan ekstrem di
kantornya, Jumat (8/10).
Tugas Satgas lanjut Ganjar yang paling penting adalah verivikasi dan
validasi information. Sebab dari information yang sudah ada, tercatat
lebih dari 27 ribu masyarakat miskin ekstrem yang ada di lima daerah
itu. Setelah verval selesai, maka tindakan lanjutan adalah intervensi.
"Verval ini kuncinya, agar tidak keliru. Sebab kita punya contohnya, ada
orang di Banyumas, dia masuk desil satu. Tapi semuanya ada, air minum
ledeng, sumur terlindungi, listrik sudah PLN, fasilitas BAB sudah punya,
tinja sudah ada tangki, RTLH tidak prioritas. Tapi kenapa masih masuk
data? Nah yang begini-begini ini harus diselesaikan,"tegasnya.
Secara keseluruhan lanjut Ganjar, angka kemiskinan ekstrem di Jateng
masih ada sekitar 1,5 juta orang. Namun itu berasal dari berbagai
daerah. Dan untuk percepatan kali ini, hanya lima kabupaten yang menjadi
prioritas pusat agar diselesaikan hingga akhir Desember tahun ini.
"Tapi saya ingatkan, bahwa penanganan harus pararel. Sekarang kan sedang
menyusun RAPBD 2022, saya minta itu dimasukkan agar berlanjut.
Sehingga, desil satu bisa diselesaikan maksimal sampai akhir 2022,"ujarnya.
Sementara itu, Wagub Jateng, Taj Yasin Maimoen mengatakan agar
penanganan kemiskinan ekstrem ini dilakukan secara kolaboratif antara
provinsi dengan daerah. Ia juga meminta agar sumber anggaran diambilkan
tidak hanya dari anggaran negara, tapi bisa dari Baznas, CSR atau
filantropi.
"Selain itu, program pendampingan satu OPD satu desa binaan yang sudah
jalan di provinsi harus ditingkatkan. Mereka-mereka yang mendampingi
desa-desa itu harus bekerja optimal agar target bisa tercapai,"katanya.
Komentar
Posting Komentar