Sebuah Gereja di Italia Meminta Maaf Karena Uskup Mengatakan Sinterklas Itu Tak Ada
Jakarta - Gereja Katolik Roma di Sisilia, Italia memohon maaf kepada para orang tua setelah uskup gereja dilaporkan mengatakan Sinterklas itu tidak ada kepada sekelompok anak-anak.
Pernyataan seorang uskup itu membuat marah para orangtua.
Dalam permintaan maafnya, priest Alessandro Paolino dari keuskupan Noto, mengatakan sang uskup sebetulnya ingin menggarisbawahi arti Natal yang sejati.
Dia juga menyebut pernyataan uskup itu bermaksud mengingatkan kisah dari Santo Nicholas, sosok awal yang menjadi inspirasi dari Sinterklas dan dikenal sebagai orang yang suka memberi kepada kaum miskin.
"Pertama-tama, atas nama uskup, saya menyampaikan duka cita atas pernyataan yang mengecewakan anak-anak dan saya ingin mengatakan apa yang ingin disampaikan Uskup Stagliano sebetulnya berbeda maksudnya," kata Pastor Paoliano dalam pesannya di laman Facebook, seperti dilansir laman BBC, Minggu (12/12).
Paolino yang menjabat sebagai direktur komunikasi keuskupan Noto mengatakan sang uskup ingin anak-anak merenungkan arti dari Natal yang belakangan maknanya kian tergerus menjadi dikenal sebagai hari untuk berbelanja.
"Jika kita bisa mengambil pelajaran, baik untuk orang dewasa atau anak-anak, dari sosok Sinterklas, yaitu: kurangi belanja untuk konsumsi dan perbanyaklah memberi," kata pernyataan Paolino.
Dalam wawancara dengan harian La Repubblica, sang uskup mengatakan dia tidak menyebut Sinterklas itu tidak ada, tapi kita perlu "membedakan apa yang nyata dan tidak."
"Fakta baru kini muncul, Natal sudah bukan lagi milik umat Nasrani," kata dia dalam bahasa Italia.
"Suasana Natal yang berisi lampu-lampu dan belanja sudah menggantikan Natal."
Pernyataan seorang uskup itu membuat marah para orangtua.
Dalam permintaan maafnya, priest Alessandro Paolino dari keuskupan Noto, mengatakan sang uskup sebetulnya ingin menggarisbawahi arti Natal yang sejati.
Dia juga menyebut pernyataan uskup itu bermaksud mengingatkan kisah dari Santo Nicholas, sosok awal yang menjadi inspirasi dari Sinterklas dan dikenal sebagai orang yang suka memberi kepada kaum miskin.
"Pertama-tama, atas nama uskup, saya menyampaikan duka cita atas pernyataan yang mengecewakan anak-anak dan saya ingin mengatakan apa yang ingin disampaikan Uskup Stagliano sebetulnya berbeda maksudnya," kata Pastor Paoliano dalam pesannya di laman Facebook, seperti dilansir laman BBC, Minggu (12/12).
Paolino yang menjabat sebagai direktur komunikasi keuskupan Noto mengatakan sang uskup ingin anak-anak merenungkan arti dari Natal yang belakangan maknanya kian tergerus menjadi dikenal sebagai hari untuk berbelanja.
"Jika kita bisa mengambil pelajaran, baik untuk orang dewasa atau anak-anak, dari sosok Sinterklas, yaitu: kurangi belanja untuk konsumsi dan perbanyaklah memberi," kata pernyataan Paolino.
Dalam wawancara dengan harian La Repubblica, sang uskup mengatakan dia tidak menyebut Sinterklas itu tidak ada, tapi kita perlu "membedakan apa yang nyata dan tidak."
"Fakta baru kini muncul, Natal sudah bukan lagi milik umat Nasrani," kata dia dalam bahasa Italia.
"Suasana Natal yang berisi lampu-lampu dan belanja sudah menggantikan Natal."
Komentar
Posting Komentar